Kamis, 26 April 2012

Tuntunan Ringkas Aqiqah (2)

Abu kaisan
bogor,26 april 2012

  Ketahuilah,Ibadah yang Allah subhanahu wa ta'ala syariatkan ada beberapa macam :

A.Ibadah I'tiqadiyah
B.Ibadah Lafdziyah
C.Ibadah badaniyah
D,Ibadah Maliyah
E.Ibadah Tarkiyah
  Diantara ibadah Maliyah adalah penyembelihan Aqiqah.Berkata Syaikh Ibnu utsaimin : " sembelihan yang disyariatkan ada tiga : kurban,penyembelihan ketika haji dan Aqiqah.(lihat Syarah Mumti' 7/550).

  Karena Aqiqah adalah ibadah maka haruslah dalam pelaksanaannya memenuhi dua syarat : ikhlas dan mutaba'ah.ikhlas dengan meniatkannya semata mata wajah Allah subhanahu wa ta'ala.Mutaba'ah dengan melaksanakan sesuai sunnah Rasulullah  shalallahu'alaihi wasallam.
  inilah   beberapa perkara yang harus diketahui agar penyembelihan kita sesuai sunnah Rasulullah  shalallahu'alaihi wasallam.

   PENGERTIAN AQIQAH

Aqiqah adalah sesembelihan yang dilakukan ketika hari ketujuh kelahiran anak.( lihat Al Mulakhas Fiqhi ).

   HUKUM AQIQAH

Imam Ahmad berkata : " Aqiqah adalah sunnah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam,beliau telah menyembelih hewan Aqiqah bagi Al Hasan dan Al Husen dan para sahabat  serta para tabi'in juga melaksanakan Aqiqah ".(lihat Taudihul Ahkam : 7/97 )

  Dalil tentang disyariatkannya Aqiqah sangatlah banyak ,diantara dalil dalil tersebut : Dari Samurah Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam  berkata :
                                                                     كل غلم رهينة بعقيقته تذبح يوم سابعه و يحلق رأسه ويسمي

Artinya : '' Semua anak yang lahir tergadai dengan Aqiqahnya disembelih dihari hari ketujuh,di gunduli rambutnya dan diberi nama " (HR.Nasai dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dala Jami'us shahih 4/233 ).

  Imam Ahmad berkata ( tentang makna hadist ini ) : " Tertahan dari memberi syafa'at bagi dua orang tuanya ".(Lihat Zadul Maad : 2/304 ).

  Berkata Imam Al Khatabi : " Manusia  telah berselisih  tentang makna hadist ini ,dan pendapat yang terbaik adalah ucapan Imam Ahmad : " Hadist ini tentang syafa'at seseorang yang mati dalam keadaan masih kecil dan belum di Aqiqahi,maka dia tidak akan memberikan syafa'at kepada orang tuanya ".( Lihat Taudhihul Ahkam : 7/103 ).
Berkata Ibnul Qayim : " Aqiqah merupakan sebab bagusnya tabiat dan akhlak seorang anak ".bersambung (2).

 Sumber : buku tuntunan ringkas aqiqah,penyusun Al ust Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak Ata,Penerbit Al Mubarak,bogor,indonesia

Tuntunan Ringkas Aqiqah ( 1 )

Abu Kaisan
Bogor,26 april 2012
Di tengah luapan kebahagian ketika mendapatkan seorang anak,hendaknya kedua orang tua tidak melalaikan amalan amalan yang telah di gariskan oleh syariat ketika di awal awal hari kelahiran seorang anak.
   Diantara amalan amalan yang seharusnya dijalankan adalah aqiqah.melalui buku ini kami akan paparkan secara global bagaimana penerapan ibadah ini.selamat membaca.

                                                         Pengantar

     Ingatlah,kita diciptakan untukBeribadah kepada allah subhanahu wa ta'ala.Allah subhanahu wa ta'ala berfiirman :
و ما خلقت الجن و الانس الا ليعبدون  
Artinya " Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku ".(QS.Adz Dzariat : 56 )
     perlu diketahui,bahwa ibadah seorang muslim akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala ketika memenuhi dua syarat yaitu:
1.Ikhlas.
   yakni dia niatkan semata mata mengharapkan pahala dari allah subhanahu wa ta'ala.allah ta'ala berfirman :                   و مآ اُمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
Artinya : padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan mengikhlaskan agama untuknya..." (QS.Al Bayyinah;5)
2.Mutaba'ah.
   yakni melaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah shalallahu 'alaihi Wasallam.
Rasulullah shalallahu 'alaihi Wasallam bersabda  "Barang siapa yang mengada adakan didalam urusan kami (urusan agama) yang bukan darinya (tidak ada tuntunannya) maka (urusan tersebut) tertolak " (HR.Bukhari dan muslim).dala riwayat Muslim : "Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada padanya urusan kami (tidak ada tuntunannya) maka tertolak".
   Mutaba'ah tidaklah terwujud kecuali dengan mencocoki tuntunan Rasulullah shalallahu 'laihi wasallam dalam enam perkara :
1. Dalam sebab.
misal : Tidak bolehnya shalat istisqa' di musim hujan,karena disyariatkan shalat istisqa' ketika terjadi kemarau berkepanjangan.
2. Jenis.
misal  : Aqiqah harus menyembelih kambingtidak bisa diganti dengan sapi atau hewan lainnya.
3. Kadar.
misal : Tidak boleh  seseorang shalat maghrib empat raka'at.
4. Tata cara.
misal: seseorang tidak boleh shalat dimulai dari posisi sujud kemudian ruku'.
5. Waktu.
misal : Tidak boleh shalat Dhuha diwaktu malam karena waktu yang disyariatkan adalah dari terbit matahari sampai menjelang tergelincir.
6. Tempat.
misal : Tidak boleh seseorang I' tikaf dikuburan karena I'tikaf disyariatkan di masjid.
  (al qaulul mufid :178),bersambung (1)

Sumber : buku tuntunan ringkas aqiqah,penyusun Al ust Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak Ata,Penerbit Al Mubarak,bogor,indonesia

Rabu, 25 April 2012

Biografi Guru Kami, Asy Syaikh Abdullah bin Mar’i Al Adeni

 Asy Syaikh Abdullah bin Mar’i Al Adeni

Biodata beliau:
Nama: Abdullah bin Umar bin Mar’i bin Buraik Al Adeni
Kunyah: Abu Abdirrahman
Tempat dan Tanggal Lahir: Al Manshurah – Aden, pada hari Selasa tanggal 27 Syawwal 1389 H

Keluarga beliau:
Syaikh Abdullah menikah di Kerajaan Saudi Arabia, Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada beliau seorang istri yang shalihah, seorang pengajar dan mustafidah. Allah pun menganugerahkan tujuh orang anak yang terdiri dari empat putra dan tiga orang putri. Adapun putra beliau adalah:
1. Abdurrahman, kunyah Syaikh diambil dari nama putra beliau ini.
2. Umar
3. Muhammad
4. Abdullah, ini yang paling bungsu.
Proses Beliau Menuntut Ilmu:
Beliau mulai belajar pada tahun 1406 H -bertepatan dengan tahun 1986 M-, dengan menghapal Al Quran dan menyetorkan hapalannya kepada Syaikh Muhammad At Ta’zi rahimahullah di Aden. Beliau mengkhatamkan Al Quran di hadapan Syaikh At Ta’zi sebanyak dua kali. Di masa itu beliau juga belajar kitab-kitab bagi pemula dalam bidang aqidah, fiqh, hadits, dan bahasa Arab. Beliau menyempurnakan hapalan Al Quran beliau di tahun 1409 H.
Beliau kemudian menetap di bumi Dammaj tahun 1408 dan bermulazamah kepada Syaikh Al Muhaddits Muqbil bin Hadi Al Wadi’i –rahimahullah-. Beliau belajar Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Tafsir Ibnu Katsir, dan pelajaran lainnya kepada Syaikh Muqbil. Dan dahulu Syaikh Muqbil Al Wadi’i –rahimahullah- mengadakan pelajaran Kitab Tauhid karya Ibnu Khuzaimah.
Syaikh Abdullah juga bertemu para penuntut ilmu senior pada masa itu, di antaranya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Washabi –hafizhahullah-. Beliau belajar Aqidah Ath Thahawiyah dari Syaikh Al Washabi.
Syaikh Abdullah pun kemudian safar ke bumi Haramain di bulan Ramadhan tahun 1412 H –bertepatan tahun 1992 H- di mana beliau menuntut ilmu secara langsung kepada para ulama senior di berbagai tempat.
Yang Pertama: Di Al Qasim dan Riyadh
1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah. Beliau bermulazamah dari tahun 1412 H selama empat setengah tahun sampai beliau pindah. Beliau mengikuti pelajaran khusus dalam pembahasan kitab Al Hamawiyah dan At Tadmuriyah serta Syarah Syaikh Ibnu Utsaimin terhadap kitab An Nawawiyah, Qawa’id An Nuraniyah, Naqdut Tablis Al Jahmiyah, As Shawaiqul Mursalah dan yang selainnya.
Syaikh Abdullah senantiasa bersemangat dalam mengisi waktu. Di waktu libur dan ketika pelajaran kosong di pagi hari dan ba’da isya beliau talaqqi, menimba ilmu dari para Syaikh lainnya, di antaranya:
1. Syaikh Al Faqih –ahli sastra dan bahasa- Abu Shalih Abdullah bin Shalih Al Falih. Beliau membacakan kitab matan sharf, di antaranya Al Asaas wal Bina, At Tashrif karya Az Zunjani, serta At Tashrif karya Muhyiddin Abdul Hamid, dan kitab Syadzal Araf. Dan di dalam ilmu Nahwu beliau belajar Al Qathr, Asy Syudzur serta Ibnu Aqil, serta sekumpulan kitab dalam bidang adab seperti Syarh Adab Al Katib dan yang selainnya.
2. Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah. Syaikh Abdullah menghadiri sebagian pelajaran Syaikh Bin Baaz di Riyadh dan bertanya tentang sebagian permasalahan. Hal ini beliau lakukan di hari Kamis, Jumat dan hari-hari libur.
3. Syaikh Abdullah Al Ghudayyan. Beliau mengikuti sebagian pelajaran ilmu ushul, dan beragam pembahasan ushuliyah.
4. Syaikh Muhammad bin Sulayman Al Alith. Beliau belajar kitab-kitab aqidah dan syarah Kitab Tauhid seperti Qurratul Uyun, At Taisir, Darun Nadhid, Al Qaulus Sadiid, Hasyiyah Ibnul Qasim dan yang selainnya. Dan demikian juga, beliau belajar Majmu Ibnu Rumaih, Kasyfu Syubuhat, Al Haiyah, banyak dari matan-matan akidah dari Syaikh Al Alith. Dan juga kumpulan pelajaran tauhid dalam risalah-risalah para imam Negeri Najd dalam bidang akidah, serta syarah- syarah kitab Al Wasithiyah dan yang selainnya.
5. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Manshur, beliau belajar kitab Al Hamawiyah, At Tadmuriyah, At Tanbihaat As Saniyah, dan Syarah-syarah Kitab Al Wasithiyah, Ad Durratul Mudhi’ah fis Safariniyah, At Taiyah karya Syaikhul Islam dengan syarh As Sa’di, Al Qawaid Al Fiqhiyah, serta risalah-risalah Syaikhul Islam seperti At Tawassul, Wasilah Al ‘Ubudiyah dan yang selainnya dari Syaikh Al Manshur.
6. Syaikh Abdullah Al Qar’awy, imam Jami’ Al Kabir di Buraidah. Beliau belajar sekumpulan risalah tauhid kepada Syaikh Al Qar’awy.
7. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan, beliau belajar sejumlah durus.
Yang kedua, Para Masyaikh kota Madinah, yang paling terkenal di antara mereka:
1. Syaikh Muhammad bin Aman Al Jaami. Beliau belajar ta’liq Syaikh Al Jami terhadap Syarah Aqidah Al Wasithiyah Al Harras di Al Haram Al Madani.
2. Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali, beliau mendapatkan pelajaran sebagian kitab-kitab sunan di dalam dars ‘am (pelajaran umum).
3. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad, beliau belajar Syarh terhadap Sunan An Nasa’i dan sebagian pelajaran Sunan Abu Daud di Al Haram Al Madani
4. Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, beliau belajar kitab Al Muwatha’ di Al Haram Al Madani
5. Syaikh Zaidan Asy Syinqithi, beliau belajar ushul fiqh di Al Haram Al Madani.
6. Syaikh Umar bin Abdul Jabbar, beliau belajar kitab Al Kawakib Al Munir di Masjid Universitas Islam Madinah.
7. Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jaabiri.
Yang Ketiga, Masyaikh Makkah:
1. Gurunya Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah yaitu Syaikh Muhammad bin Abdillah As Shumali. Beliau belajar kitab ‘Ilal Ibni Madini, ilmu musthalah, serta beragam bab dari Shahih Al Bukhari.
2. Syaikh Muhammad Ath Thayyib bin Ahmad Al Maghribi Al Ja’fari, beliau belajar ushul fiqih dan beragam bab fiqih.
3. Syaikh Muhammad Al Khadr Dhayfullah Al Jakni Asy Syinqithi, beliau belajar bahasa Arab dan sebagian ilmu mantiq.
4. Syaikh Muhammad bin Shalih At Tanbakti Al Mali, beliau belajar Syarah Ibnu Aqil.
5. Syaikh Muhammad bin Syaikh Ali bin Adam Al Atsiyubi Al Walwy. Beliau belajar Sunan At Tirmidzi, ‘Ilal Ibnu Rajab dan Nazham beliau dalam nama-nama Mudallis.
Beliau juga belajar dari para ulama lainnya yang beliau temui dalam sebagian majelis seperti Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani. Beliau hadir di sebagian pelajaran Syaikh Al Albani pada tahun 1410 di Makkah dan Jeddah.
Cukup bagimu ijazah-ijazah yang beliau -semoga Allah menjaganya- peroleh dari sebagian masyaikh yang beliau enggan untuk kami ketahui,. Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan barakah kepada diri dan ilmu beliau, serta kepada para ulama, masyaikh, dan para dai ahlussunnah secara keseluruhan.

Sumber  :  http://wirabachrun.wordpress.com


Darul Hadits Syihir Hadramaut – Selayang Pandang

Darul Hadits Syihir Hadramaut – Selayang Pandang

Oleh: Wira Mandiri Bachrun

Pendahuluan
Darul Hadits Syihir adalah salah satu markaz ahlussunnah yang berlokasi di kota Syihir yang berjarak sekitar 60 km dari kota Mukalla, ibukota propinsi Hadramaut, Republik Yaman.
Markaz yang bertempat di Masjid Jami’ At Taqwa, Al Manshurah Al Jadidah Syihir ini diresmikan pada bulan Muharram 1419 H, bertepatan dengan bulan April 1998. dengan mas’ul (penanggung jawab) pertama kali Asy Syaikh Abdurrahman Al Mar’ie (adik dari Asy Syaikh Abdullah Al Mar’ie yang sekarang memegang markaz Darul Hadits Fyush, Lahj).

Para Pengajar

Asy Syaikh Abdullah Al Mar’ie adalah seorang alim dari para ulama Yaman yang mengajar di Darul Hadits Syihir. Beliau adalah murid dari muhaddits Yaman Asy Syaikh Muqbil bin Hadi dan faqihul ‘ashr Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Selain itu beliau juga menimba ilmu dari sejumlah ulama besar di masa kita seperti:
- Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
- Asy Syaikh Athiyah Salim
- Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad
- Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi
- Asy Syaikh Muhammad Ash Somali
- Asy Syaikh Muhammad Ali Adam Al Ithiofi
- Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al Jabiri
Di antara pelajaran umum yang beliau buka:
- Shahih Al Bukhari
- Tafsir Ibnu Katsir
- Shahihul Musnad mimma laisa fi Ash Shahihain
- Shahihul Musnad min Dalail An Nubuwah
- Al Lu’lu’ wal Marjan
- Taisirul Alam Syarah Umdatul Ahkam
- Ad Daroril Mudhiyah
Di waktu-waktu tertentu, beliau juga membuka pelajaran kitab-kitab khusus. Selama penulis belajar di sini, beliau hafizhahullah membuka dars kitab:
- Syarah Al Baiquniyyah
- Tashil Faraidh karya guru beliau Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
- Siyasah Syar’iyyah karya Ibnu Taimiah
- Al Qoulus Sadid Syarah Kitabut Tauhid karya As Sa’di
- Mukhtashar Sirah An Nabawaiyah karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
- Ikhtiyaraat Fiqhiyyah Ibnu Taimiyyah
- Syarah Mimiyah Ibnul Qayyim
Selain beliau, di Darul Hadits Syihir juga mengajar para mustafidin seperti:
1. Abu Yusuf Abdul Majid (pengajar ushul, musthalah, hadits dan tafsir)
2. Abu Khalid Walid Maqram (pengajar aqidah dan ushul)
3. Abu Abdirrahman Fahd As Sulaimani (pengajar aqidah, fiqh dan mustholah)
4. Abu Abdillah Baja’alah (pengajar fiqh dan hadits)
5. Abu Hasyim Asy Syihri (pengajar aqidah, nahwu dan siroh)
6. Abu Abdillah Syakir McGill Al Kanadi (pengajar nahwu, ushul fiqh dan musthalah hadits)
7. Abu Mu’adz Bashal’ah (pengajar nahwu dan tafsir)
8. Abu Muhammad Yasir Al Abbadi (pengajar tajwid, murid Asy Syaikh Ubaidullah Al Afghani, ulama tajwid Madinah)
9. Abu Nafi’ Salim Al Kilali (pengajar aqidah dan fiqh)
10. Abu Ibrahim ‘Awad bin Urwah (pengajar nahwu, sharf dan balaghah)
Mereka hafizhahumullah sebagian besarnya adalah murid-murid Asy Syaikh Muqbil bin Hadi dan murid Asy Syaikh Abdullah Al Mar’ie sendiri.

Lembaga Pendidikan

Di Darul Hadits Syihir, pendidikan dibagi menjadi dua:
- Pendidikan anak-anak dengan sistem klasikal
- Pendidikan thalib dewasa dengan sistem mulazamah
Seperti layaknya sebuah madrasah, pendidikan anak-anak dimulai pada pukul 07.30 sampai menjelang dhuhur, pukul 11.30. Materi untuk pendidikan anak meliputi hapalan Al Qur’an dan Hadits, aqidah, fiqh, lughah dan materi diiniyah lainnya. Di madrasah, anak-anak juga diajarkan pelajaran aljabar dasar.
Adapun untuk thalib dewasa, sistem yang diberlakukan adalah sistem mulazamah, yaitu santri memilih sendiri kelas yang sesuai dengan taraf keilmuannya. Mulazamah dimulai sejak fajar, setelah dars umum tafsir sampai terakhir pukul 22.00 malam, menyesuaikan dengan jadwal yang disepakati antara thalib dengan para pengajar.
Selain itu juga di Darul Hadits Syihir terdapat madrasah khusus untuk wanita yang sistemnya hampir sama dengan madrasah laki-laki. Hanya saja untuk bagian wanita, kelas dan liqa’nya jauh lebih banyak daripada yang putra. Dalam waktu yang bersamaan bisa dibuka lebih dari 30 liqa’at khusus thalibah. Kegiatan belajar mengajar bagi wanita diselenggarakan di masjid khusus wanita yang berdampingan dengan masjid Jami’.

Radio dan Situs Dakwah

Darul hadits Syihir memiliki radio dakwah yang dipancarluaskan ke kota Syihir dan ke seluruh dunia lewat situs www.dar-sh.com . Siaran radio dimulai subuh sekitar pukul 04.30 sampai dengan pukul 23.00 waktu Yaman. Acara yang disuguhkan antara lain: Zikir pagi dan petang, bacaan Al Qur’an, pelajaran tafsir dan hadits, ceramah dan tanya jawab agama dan dars ‘am (pelajaran umum) yang disiarkan secara langsung dari Masjid At Taqwa.
Dari situs www.dar-sh.com juga kaum muslimin bisa mengunduh berbagai macam pelajaran diiniyah yang pernah diajarkan di Darul Hadits dalam format mp3.

Biaya Pendidikan

Seperti markaz-markaz lainnya di Yaman, para penuntut ilmu di Darul Hadits Syihir tidaklah dikenakan biaya. Makan dan tempat tinggal gratis. Thalib hanya perlu menyediakan biaya untuk kebutuhan pribadi seperti sabun, alat tulis, dan kitab-kitab yang dipelajari serta biaya visa belajar setiap tahun. Di luar itu semuanya gratis,

Kewajiban Pelajar

Selain belajar, para thullab di Darul Hadits Syihir memiliki beberapa kewajiban:
1. Hirasah (Tugas jaga malam)
Thalib mendapatkan tugas jaga malam dari pukul 22.00-04.00. Biasanya digilir setiap dua pekan sekali
2. Thobbakh (Tugas Dapur)
Thalib mendapatkan tugas menjadi asisten dapur: memotong bumbu, mempersiapkan makan dan membersihkan perlengkapan makan dan masak. Seperti tugas hirashah, tugas thobbakh digilir kurang lebih dua pekan sekali.
3. Nazhofah (Tugas Kebersihan)
Thalib mendapatkan tugas membersihkan sakan (asrama pelajar) secara bergotong-royong, biasanya sebulan sekali.

Pelajar Indonesia

Ketika artikel ini dibuat, di Darul Hadits Syihir terdapat sekitar belasan pelajar dari Indonesia. Sebagian besarnya belum menikah dan tinggal di sakan thullab, sebagian lagi tinggal di rumah-rumah kontrakan sekitar Markaz.

Pelajar Pemula

Bagi pelajar pemula dari Indonesia yang belum bisa berbahasa Arab dengan baik, maka bisa belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu dasar lainnya terlebih dahulu kepada sebagian thullab senior Indonesia.

Cuaca Syihir

Perlu juga diperhatikan oleh para penuntut ilmu yang ingin belajar di Darul hadits Syihir bahwa di musim panas, suhu kota Syihir sangat ekstrim. Panas yang tinggi biasanya muncul sekitar bulan Mei-Juni dengan suhu di atas 40 derajat celcius sehingga diperlukan daya tahan tubuh yang kuat serta penyesuaian dengan iklim di kota ini.

Penutup

Demikian informasi tentang Darul Hadits Syihir – Hadramaut. Semoga bisa bermanfaat terutama bagi para thullab yang ingin melanjutkan studinya ke sini.

Wabillahit Taufiq.

(Disusun oleh Wira Mandiri Bachrun, thalib Darul Hadits Syihr, Hadramaut)

Periwayatnya bukan Muslim?


Suatu saat Asy Syaikh Muqbil membacakan sebuah hadits. Setelah selesai, beliau mengatakan kepada murid-muridnya, “Hadits ini diriwayatkan oleh muslim.” Beliau lalu diam menunggu reaksi murid-muridnya.
Tiba-tiba salah seorang muridnya berdiri dan berkata, “Wahai syaikh, hadits ini tidaklah diriwayatkan oleh Muslim (maksudnya Al Imam Muslim dalam Shahihnya), tapi diriwayatkan oleh Ashabus Sunan (An Nasa’i, At Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah).”
Diberitahu seperti itu Asy Syaikh tetap ngotot, “Bahkan ini diriwayatkan oleh muslim!”
Murid beliau tadi tidak mau kalah juga, tetap saja bersikeras, “Ndak ya Syaikh, Muslim tidak meriwayatkan hadits itu!”
Asy Syaikh akhirnya tersenyum sambil berkata, “Tentu saja hadits ini diriwayatkan oleh seorang muslim, bukan seorang yang kafir.”
Akhirnya hadirin pun ikut tersenyum, mereka baru paham kalau Asy Syaikh sedang bercanda. Muslim yang dimaksud adalah seorang yang beragama Islam, bukan Al Imam Muslim penyusun kitab Shahih.


di nukil dari   :   http://wirabachrun.wordpress.com

Al Ushul As Sittah – 6 Prinsip Pokok dalam Memahami Agama

Al Ushul As Sittah – 6 Prinsip Pokok dalam Memahami Agama

Karya Asy Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdi
Termasuk di antara perkara yang paling mengherankan dan termasuk tanda-tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kemampuan Allah, Dzat Yang Maha Menguasai alam semesta adalah 6 pokok yang telah Allah ta’ala jelaskan dengan keterangan yang jelas bagi orang-orang awam, melebihi apa yang dikira oleh orang-orang yang memiliki zhan. Kemudian setelah ini, banyak orang-orang cerdas di dunia ini serta orang-orang yang berakal dari kalangan bani Adam telah salah, kecuali sedikit saja dari mereka.
Prinsip Pertama: Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah ta’ala semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta menjelaskan lawan dari keikhlasan, yaitu syirik kepada Allah.
Kebanyakan ayat Al Qur’an telah menjelaskan perkara ini dari berbagai sisi, dengan perkataan yang dapat dipahami oleh orang awam yang paling bodoh sekalipun. Kemudian berubahlah keadaan kebanyakan orang, syaithan menampakkan keikhlasan kepada mereka dalam bentuk pelecehan terhadap orang-orang shalih, dan mengurangi hak mereka. Syaithan juga menampakkan syirik kepada Allah dalam bentuk kecintaan kepada orang-orang shalih dan pengikut-pengikut mereka.
Prinsip kedua: Allah memerintahkan untuk bersatu di dalam agama serta melarang berpecah-belah di dalamnya.
Allah telah menjelaskan perkara ini dengan sangat terang dan jelas, sehingga dapat dipahami oleh orang awam. Allah juga melarang kita untuk menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sebelum kita, maka mereka pun celaka. Dan Allah juga menyebutkan bahwa Dia memerintahkan kaum muslimin untuk bersatu di dalam agama dan melarang kita dari berpecah di dalamnya. Dan menambah jelas perkara ini, apa yang datang dari As Sunnah berupa perkara yang menakjubkan tadi. Kemudian keadaan berubah, perpecahan dalam pokok-pokok agama dikatakan sebagai ilmu dan fikh dalam agama, sebaliknya perintah untuk bersatu dalam agama tidaklah ada yang menyerukannya kecuali zindiq atau orang yang gila.
Prinsip Ketiga: Termasuk kesempurnaan bersatu dalam agama adalah mendengar dan taat kepada pemerintah kita meskipun dia seorang budak Habasyah.
Allah telah menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang cukup, dengan berbagai jenis keterangan baik secara syar’i maupun qadari (kenyataan). Kemudian perkara ini berubah, apabila perkara ini tidak diketahui oleh orang-orang yang mengaku berilmu, maka bagaimana mungkin mengamalkannya?
Prinsip Keempat: Menjelaskan tentang ilmu dan ulama, fikih dan fuqaha’, serta penjelasan tentang orang yang menyerupai mereka, padahal bukan termasuk mereka.
Allah ta’ala telah menjelaskan prinsip ini di awal-awal surat Al Baqarah, dari firman-Nya:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ
“Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah aku anugerahkan kepadamu.” (Al Baqarah: 47)
Sampai firman-Nya sebelum penyebutan Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Dan semakin menambah jelas apa yang telah sharih dari As Sunnah berupa penjelasan yang teramat jelas dan terang bagi orang awam yang paling bodoh sekali pun, lantas berubahlah perkara ini menjadi sesuatu yang asing. Ilmu dan fikih malah dianggap bid’ah dan kesesatan. Minimalnya ilmu dan fikih itu dianggap sebagai pencampuradukan kebenaran dan kebatilan. Ilmu yang telah Allah wajibkan kepada manusia dan yang telah Allah puji, dianggap tidak ada yang mengucapkannya kecuali orang yang zindiq dan gila. Sebaliknya, orang yang mengingkari dan memusuhi ilmu serta menulis kecaman dan larangan dari ilmu malah disebut sebagai seorang faqih dan seorang alim.
Prinsip yang Kelima: Allah telah memberikan penjelasan tentang para wali-Nya, dan Allah telah memberi pembeda, yang mana wali-Nya, yang mana musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang munafiq dan fajir yang menyerupai wali-wali-Nya.
Dalam perkara ini, cukup firman Allah ta’ala dalam surat Ali Imran:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
Katakanlah: “Jika engkau mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam)! Niscaya Allah akan mencintaimu.” (Ali Imran: 31) –sampai akhir ayat-.
Demikian juga firman-Nya di dalam surat Al Maidah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. (Al Ma’idah: 54) –sampai akhir ayat-.
Dan demikian juga firman Allah dalam surat Yunus:
أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (Yunus: 62-63)
Kemudian berubahlah perkara ini, orang-orang yang mengaku berilmu serta mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang diberi petunjuk dan penjaga syariat ini menganggap para wali Allah itu adalah orang yang meninggalkan ajaran para Rasul. Orang-orang yang mengikuti ajaran para Rasul tidaklah mereka anggap sebagai wali Allah.
Mereka juga menganggap bahwa para wali itu adalah orang-orang yang meninggalkan jihad. Barangsiapa yang berjihad, maka mereka anggap dia bukan wali.
Mereka juga menganggap bahwa wali itu adalah orang-orang yang meninggalkan iman dan takwa. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan iman dan takwa, bukan termasuk wali.
Wahai Rabb kami, kami memohon ampunan dan kesejahteraan. Sungguh Engkau maha mendengar doa.
Prinsip yang Keenam: Membantah kesamaran yang dilontarkan oleh Syaithan untuk meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah serta mengikuti beragam pemikiran dan hawa nafsu.
Kesamaran ini berupa ucapan bahwa Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah dapat dipahami melainkan hanya oleh seorang mujtahid mutlaq, dan mujtahid di sini adalah seoerang yang disifati dengan beragam karakteristik yang tidak dapat dicapai oleh Abu Bakr dan Umar sekali pun. Apabila seseorang tidak mencapai derajat ini, maka sudah pasti tanpa keraguan sedikit pun bahwa wajib baginya untuk berpaling dari Al Qur’an dan As Sunnah. Barang siapa yang mengambil petunjuk dari Al Qur’an dan As Sunnah maka dia adalah seorang zindiq, atau seorang yang gila karena sulitnya memahami Al Qur’an dan Sunnah.
Subhanallah wa bihamdih! Telah begitu banyak Allah jelaskan bantahan terhadap kesamaran yang terlaknat ini baik secara syar’i maupun kenyataanya, dari berbagai sisi sampai pada batas yang diketahui secara umum, akan tetapi kebanyakan orang tidaklah mengetahui.
لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَى أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لا يُؤْمِنُونَ *إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلالا فَهِيَ إِلَى الأذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ * وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لا يُبْصِرُونَ * وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ * إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ *
“Sesungguhnya telah pasti berlaku ketentuan Allah terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka, ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Allah, Rabb yang Maha Pemurah ketika berkesendirian. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.” (Yasin: 7-11)
Dan akhir dari risalah ini adalah ucapan kami alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau sampai hari kebangkitan.

Al Qawa’id Al Arba’ah: Empat Kaidah Agung dalam Memahami Tauhid

Al Qawa’id Al Arba’ah: Empat Kaidah Agung dalam Memahami Tauhid

Karya Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An Najdi
Bismillahir-rahmanir-rahim
(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang)
Aku mohon kepada Allah yang Maha Pemurah, Rabb ‘arsy yang agung, agar Allah menjadikan engkau sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat, agar Allah menjadikan dirimu senantiasa diberkahi di mana pun engkau berada, dan semoga Allah menjadikanmu termasuk hamba-Nya yang jika diberi anugerah bersyukur, jika diberi cobaan bersabar, dan jika berbuat dosa beristighfar, karena ini sesungguhnya tiga perkara ini adalah tanda-tanda kebahagiaan.
Ketahuilah –semoga Allah menunjukimu untuk mentaati-Nya -, bahwa sesungguhnya Al Hanifiyyah, ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah engkau mengibadahi Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya bagi-Nya, sebagaimana firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1: 56)
Dan bila Anda telah mengetahui bahwa Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci. Bila ibadah tersebut dimasuki syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana hadats yang masuk ke dalam thaharah.
Jika engkau telah mengetahui bahwa syirik jika bercampur dengan ibadah maka syirik akan merusak ibadah, membatalkan amalan, dan menyebabkan pelakunya termasuk orang-orang yang kekal di dalam neraka, maka engkau akan mengetahui bahwa perkara yang penting bagimu untuk mengetahuinya, semoga Allah meloloskanmu dari jaring-jaring ini, yaitu syirik kepada Allah, di mana Allah berfirman tentangnya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An- Nisaa’: 48)
Terbebasnya engkau dari jaring-jaring kesyirikan ini bisa engkau dapatkan dengan mengenali empat kaidah yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an.
Kaidah Pertama: Hendaknya engkau mengetahui bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakui bahwa Allah ta’ala-lah Sang Pencipta dan Yang Maha Mengatur, AKAN TETAPI PENGAKUAN MEREKA INI TIDAKLAH MEMASUKKAN MEREKA KE DALAM ISLAM.
Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).” (Yunus: 31)
Kaidah Kedua: Orang-orang musyrikin berkata: “Kami tidak berdo’a menghadapkan hati kami kepada mereka (Nabi, malaikat, orang-orang, dan yang selain itu -pent) kecuali untuk meminta kedekatan kepada Allah, untuk meminta syafa’at.
Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar” (Az-Zumar: 3)
Adapun dalil tentang syafa’at yaitu firman Allah:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (Yunus: 18)
Syafa’at itu ada 2 macam:
• Syafa’at manfiyah (yang ditolak)
• Syafa’at mutsbatah (yang diterima)
Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah SYAFAAT YANG DIMINTA DARI SELAIN ALLAH dalam perkara yang tidak dimampui kecuali hanya oleh Allah. Dalilnya adalah firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu s ebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim. (Al-Baqarah: 254)
Syafa’at mutsbatah adalah SYAFA’AT YANG DIMINTA DARI ALLAH. Pemberi syafa’at adalah orang dimuliakan dengan syafa’at tersebut, adapun orang yang diberikan syafa’at adalah orang yang diridhai oleh Allah baik ucapan maupun perbuatannya, serta setelah diberi izin oleh Allah ta’ala, sebagaimana yang Allah firmankan;
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Siapakah yang mampu memberi syafa’at disamping Allah tanpa izin-Nya?” (Al-Baqarah: 255)
Kaidah Ketiga:
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada umat manusia yang berbeda-beda peribadatannya. Di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, di antara mereka ada yang menyembah pepohonan dan batu-batu, di antara mereka ada yang menyembah mentari dan rembulan. Mereka ini (apapun yang mereka sembah selain Allah –pent) diperangi oleh Rasululllah shallallahu alaihi wasallam tanpa dibeda-bedakan. Dalilnya adalah firman Allah:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ
“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi kesyirikan, dan agama ini hanya untuk Allah semuanya.”(Al-Baqarah: 193)
Sedangkan yang menunjukkan mereka beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ َالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”(Fushilat: 37)
Dalil peribadahan kepada malaikat:
وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا
Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Rabb. (Al Imran: 80)
Dalil yang menunjukkan peribadahan kepada para nabi adalah:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”. (Al Ma’idah: 112)
Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shalih adalah:
أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.” (Al-Ishra: 57)
Dalil yang menunjukkan peribadatan kepada pohon-pohon dan bebatuan,
أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى* وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Laat dan Al Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?(An Najm: 19-20)
Dan juga hadits Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu:
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِي -صلى الله عليه وسلم- إِلَى حُنَيْن وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكِفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنَوِّطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لَهَا: ذَاتُ أَنْوَاطٍ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ
“Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Waktu itu kami adalah orang-orang yang baru masuk Islam. Dan orang-orang musyrik mempunyai pohon untuk beri’tikaf dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzaatu Anwath. Lalu kami melalui sebuah pohon lalu kami mengatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang dimiliki oleh orang-orang musyrik.
Kaidah Keempat: Sesungguhnya kaum musyrik di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibanding musyrikin terdahulu. Sebabnya, para musyrikin zaman dahulu, mereka berdo’a secara ikhlas kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan lapang.
Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam keadaan sempit maupun ketika dalam keadaan lapang. Hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al Qur’an:
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Al-Ankabut: 65-66)
Tamat, semoga shalawat dan salam tercurah kepada sayyidina Muhammad, kepada pengikut, serta para sahabat beliau.

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes